CATHERINE PANJAITAN (putri sulung Alm Brigjen D.I. Panjaitan)

06 Oktober 1984

CATHERINE PANJAITAN, 37,
putri sulung Pahlawan Revolusi Almarhum Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan, kini ibu rumah tangga.

PADA 30 September 1965 itu, sepulang saya dari sekolah di SMA Tarakanita (kelas I), saya meminta izin Papi agar diperbolehkan mengikuti apel di Senayan, yang diwajibkan sekolah waktu itu. Tapi Papi melarang. "Pokoknya, kamu jangan pergi," ujarnya singkat. Sebagai remaja, saya sangat ingin keluar rumah. Karena itu, saya ngotot pergi. Mengenakan seragam putih, sepatu putih, rambut dikepang dua (ekor kuda), saya berangkat.

Di Stadion Senayan, pidato dimulai pukul 17.00, tapi saya tidak mendengarkan, karena asyik bergurau dengan teman. Acara selesai sekitar pukul 20.00 tapi baru sekitar pukul 22.00 saya sampai ke rumah karena harus mengantar teman. Saya agak takut masuk rumah, karena diberitahu: sejak tadi saya ditunggu Papi. Tanpa makan malam, saya jinjing sepatu ke atas (rumah kami bertingkat), ke kamar saya, supaya Papi tidak tahu saya datang. Saya lihat lampu kamarnya masih menyala.

Setelah berganti pakaian, saya tidur. Kira-kira pukul 04.30, 1 Oktober 1965, saya terbangun karena mendengar teriakan-teriakan disertai tembakan. Saya mengintip dari jendela. Saya lihat banyak orang yang berseragam tentara, beberapa di antaranya melompati pagar, sambil membawa senapan. Saya berlari keluar kamar. Ternyata, Papi sudah bangun. Ia menggendong adik, anak seorang saudara yang baru datang dari Sumatera. Kami semua berkumpul di ruang tengah lantai atas. Papi mondar-mandir, dari balkon ke kamarnya. Ia mencoba mengotak-atik senjatanya, semacam senapan pendek.

Saya bertanya pada Papi. "Pa, ada apa?". Tapi ia tak menjawab. Tembakan terus terdengar, sekarang di lantai bawah. Barang-barang hancur, televisi, koleksi kristal Ibu, bahkan meja pun terbalik. "Tiarap," Papi memberi komando. Lalu saya disuruh menelepon Samosir, salah seorang asisten Jenderal S. Parman. Cepat saya hubungi dia, minta bantuan, kami dikepung, banyak tentara. Setelah itu saya telepon pacar sahabat saya, namanya Bambang. Saya minta bantuan. Tapi belum selesai pembicaraan, kabel telepon diputus.

Di lantai bawah, tembakan masih terdengar, tapi tak ada yang nyasar ke atas. Lalu terdengar teriakan Albert, sepupu saya, "Tulang (Paman), jangan menyerah. Jangan menyerah, Tulaang !". Albert dan Victor (ipar Papi) memang tidur di lantai bawah. Dua pembantu kami terdengar ditanyai "Mana ndoro-mu ?". Saya mendengar pertanyaan itu jelas sekali, diulang-ulang. Baru setelah diancam akan dibunuh, mereka memberitahu.

Lalu teriakan beralih ke atas. "Menyerah saja, menyerah". Secara spontan, saya bertanya "Siapa yang suruh?". Dari bawah dijawab "Paduka yang mulia". Namun, para tentara yang di bawah tidak berani naik ke atas. Kemudian Papi masuk kamar, berganti pakaian. Ibu menangis. Tanpa banyak kata Papi turun, dengan pakaian dinas lengkap.

Kaus kaki hitam telah dlpakai, tapi sepatunya dijinjing. Ibu, saya, Salomo - adik saya - terpaku melihat kepergiannya. Ketika Papi menuruni tangga, sampai di belokan, saya mengejarnya, ingin mengikutinya. Namun, Papi cepat berkata, "Jangan turun. Semua tinggal di atas." Saya terdiam. Saya dan Salomo kemudian berlari ke balkon, ingin mengikuti perkembangan.

Saya melihat, dan mendengar, salah seorang dari lima orang yang berseragam hijau dan bertopi baja berseru "Siap. Beri hormat". Tapi Papi cuma mengambil topinya, lalu mengapitnya di ketiak kiri. Tentara itu kemudian memukul Papi dengan gagang senapan. Papi tersungkur.

Dan cepat sekali dor, dor, dua kali tembakan meletus. Darah menyembur dari kepala Papi. Saya dan Salomo tertegun. Hampir bersamaan, saya dan Salomo memburu ke luar, ke bawah. Di pintu kami berebutan keluar. Sampai di luar, jenazah Papi sudah tidak ada. Tinggal genangan darah yang bercampur cairan putih, mungkin otak Papi.

Berbagai perasaan tak menentu berkecamuk, waswas, takut, bingung, tegang, bercampur-aduk. Dengan air mata meleleh, saya berteriak, "Papa ..., Papa ...." Saya ambil darah Papi, saya usapkan ke wajah turun sampai ke dada. Lalu saya tepuk dada saya, saya gedor. Ada semacam perasaan bersalah, mengapa saya tak bisa membela Papi. Tapi saya sadar bahwa Papi telah terbunuh.

Dan itulah cara penghormatan saya yang terakhir. Salomo, yang memburu sampai ke pintu gerbang, hanya bisa menyaksikan kepergian truk yang membawa jenazah Papi. Ia menemukan sejumput rambut Papi, yang tertinggal, mungkin akibat diseret (rambut ini di kemudian hari disusulkan dan dikebumikan di kubur Papi).

Waktu kembali ke rumah, saya baru melihat bahwa Albert dan Victor juga terkapar bersimbah darah. Dengan masih mengenakan daster, dengan darah Papi berlepotan di muka dan di daster, saya sendiri mengemudikan mobil menuju rumah Pak Nasution di Jalan Teuku Umar. Ternyata, di sana juga ramai. "Pak Nasution diserbu dan diculik," kata seseorang.

Saya lalu menuju ke rumah seorang saudara, di Jalan Cut Mutiah. Saya hanya bilang "Papa diculik". Lalu saya dipeluk. Dengan didampingi tiga orang saudara, saya kembali di rumah, di Jalan Hasanuddin, Kebayoran Baru. Di rumah sudah agak banyak orang. Tiba di tangga ke atas, saya duduk, dan baru saya menangis sesenggukan. Ibu sering jatuh pingsan. Siuman sebentar, menangis, lalu pingsan lagi.

Beberapa oran mencoba menghibur saya, "Tabah. Tabahkan hatimu. Papi baru dicari." Tentu saja saya tidak bisa menerima hiburan itu, sebab saya tahu, Papi ditembak di jidatnya, dan terkapar di tanah, dengan darah melimbah bercampur cairan putih dari kepalanya. "Papa mati ditembak kepalanya," ujar saya di sela tangis.

sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar