Kegagalan Gestok

SEBUAH pesawat Dakota AURI baru saja lepas landas dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, di pinggiran timur Jakarta. Pesawat ini membawa Ketua PKI, Aidit, dengan sejumlah kecil rombongan. Di malam buta itu mereka terbang menuju Yogya. Tak berapa lama lagi sebuah Hercules C-130 menyusul mengudara. Pesawat angkut militer berbaling-baling empat ini menerbangkan Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dhani, beserta sejumlah staf. Yang dituju ialah Pangkalan Udara Utama (Lanuma) Iswahyudi, di Madiun, Jawa Timur, basis terkuat AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia).

Di sana ada pesawat tempur termodern yang dimiliki AURI pada masa itu, seperti pesawat pemburu MiG 21 dan pengebom TU 16, buatan Uni Soviet. Kesibukan itu, yang terjadi di pangkalan AURI itu pada pukul 01.30 dinihari, 2 Oktober 1965, menandai bangkrutnya Gerakan 30 September. Sebab, kaburnya para tokoh ini merupakan pertanda bahwa Halim Perdanakusuma -- basis mereka sudah sulit dipertahankan.

Memang Omar Dhani tak langsung menuju Madiun. Pesawatnya berputar-putar di udara dan melalui komunikasi radio ia menghubungi petugas pangkalan udara mencari tahu situasi di Halim. Ia juga sempat menghubungi pihak Kostrad, memberi peringatan agar mengurungkan rencana menyerang Halim Perdanakusuma, sebab daerah itu berada di bawah penguasaan AURI.

Panglima AURI ini baru mendarat di Iswahyudi, Madiun, setelah bertahan di udara selama enam jam. Itu setelah ia tahu pasti bahwa Pangkalan Halim Perdanakusuma sudah jatuh ke tangan pasukan Kostrad. Ketika pesawat Omar Dhani meninggalkan landasan, Halim Perdanakusuma memang sudah dikepung oleh pasukan Kostrad (Komando Strategis Angkatan Darat) yang dipimpin Panglima Kostrad, Mayjen. Soeharto (kini presiden). Dari arah barat, Jakarta By Pass (kini Jalan D.I. Panjaitan) dan Cililitan, sudah bergerak pasukan Batalyon 328, Kujang, Siliwangi, dengan diperkuat satu kompi pasukan tank. Sementara itu, lima kompi RPKAD (kini Kopassus), yang terdiri atas sekitar 600 orang, menjepit dari arah Klender, di utara. Sebuah malam yang menegangkan.

Ketika, sebelumnya, Komandan Resimen RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo meminta izin pada Mayjen. Soeharto untuk menyerbu Halim Perdanakusuma, di Markas Kostrad, malam itu, Jenderal A.H.Nasution yang sudah menggabungkan diri ke Kostrad, sempat berkata, "Jij mau bikin tweede Mapanget, ya?" Nasution rupanya teringat kisah sukses Sarwo Edhie dan pasukannya ketika membebaskan lapangan terbang Mapanget di Manado, Sulawesi Utara, dari tangan pemberontak Permesta 1958. Akankah terjadi Mapanget kedua? Tapi nyatanya Halim bukan Mapanget. Tak ada pertempuran seru di sini.

Sekitar pukul enam pagi, 2 Oktober itu, Mayor C.I. Santosa, Komandan Batalyon RPKAD yang memimpin penyerbuan Halim, memberi komando. Lima belas menit kemudian, semua sasaran penting di pangkalan itu sudah diduduki. "Tidak ada perlawanan dan Omar Dhani sudah lari duluan," ujar Sarwo Edhie.

"Kami tak perlu menembak. Cukup dilempari dengan baret merah saja mereka sudah keder duluan," ujar C.I. Santosa, 58 tahun, kini anggota DPA. Ada sedikit tembak-menembak setelah Sarwo Edhie menggerakkan pasukannya menuju Kampung Lubang Buaya, Kecamatan Pasar Rebo, sekitar tiga km dari Halim. Daerah ini merupakan basis pasukan G-30S atau Gestapu.

Rupanya, pasukan batalyon 454, yang telah ditarik mundur dari sekitar Istana Merdeka, kaget melihat RPKAD muncul tiba-tiba, dan mereka melepaskan tembakan. Seorang anggota RPKAD gugur. Dalam tembak-menembak kemudian dua anggota pasukan lawan mati. Cukup sampai di situ.

Selanjutnya, pasukan Gestapu mengundurkan diri tak teratur, lari kocar-kacir, bersama dengan sejumlah anggota Pemuda Rakyat dan Gerwani yang dipersenjatai. Letkol. Untung, Ketua Dewan Revolusi, bersama sejumlah tokoh G30-S lainnya, Brigjen. Soepardjo, Mayor Sujono, serta pimpinan Biro Khusus PKI, Sjam dan Pono, sebetulnya berada di tempat itu.

Kemudian mereka meloloskan diri ke arah Cipete. Dari sana mereka berpencar. Soepardjo, misalnya, sempat menginap di Istana Bogor sampai 5 Oktober 1965. Ketika itu Presiden Soekarno juga berada di sana.

Sedang Untung tertangkap oleh ABRI dan massa rakyat di Tegal, Jawa Tengah, 11 Oktober 1965, ketika ia sedang menumpang bis Mujur untuk melanjutkan pelariannya menuju Semarang. Keesokan harinya ia dibawa ke Markas Kostrad di Jakarta dengan pengawalan beberapa panser dan truk penuh berisi pasukan ABRI.

Setelah Halim Perdanakusuma diduduki sebetulnya, praktis sayap militer G-30-S sudah dipatahkan. Memang ketika itu Kostrad masih mengkhawatirkan datangnya serangan udara, sebab Omar Dhani sudah jelas mendukung Gestapu. Sebab itulah Mayjen. Soeharto memindahkan pos komando (Posko) untuk sementara dari Kostrad ke perkampungan atlet Senayan, sejak pukul 11.30, 1 Oktober itu.

Artileri pertahanan udara TNI-AD sudah sempat disiapkan. Tapi nyatanya tak satu pesawat tempur pun yang datang menyerang Jakarta. Mengapa begitu mudah gerakan makar ini patah? Brigjen Soepardjo, salah seorang tokoh penting G-30-S, memang sempat membuat analisa tentang kegagalan itu. Ia menggambarkan bahwa Gerakan ini tak disiapkan dengan baik.

Tulisnya di sebuah dokumen yang kemudian ditemukan: "Sungguh-sungguh di luar dugaan bahwa mereka Sjam dan kawan-kawan, jangankan membuat persiapan, malahan diskusi pun tak ada untuk menghadapi jika G-30-S gagal, apa bentuk retreat-nya dan sebagainya."

Selanjutnya Soepardjo mengatakan, "Garis agitasi SJam dan kawan-kawan hanya: semua beres, kita kuat, massa siap revolusi, dan lain-lain kata yang bombastis. Malah pikiran mereka lebih jauh lagi, pada tanggal 30 September malam dan 1 Oktober pagi Senko (sentral komando) pindah ke MBAD (Markas Besar Angkatan Darat). Jenderal-jenderal/menteri dipanggili, bagi-bagi tenaga untuk perwira Kodam/Kostrad dan lain sebagainya."

Maka, setelah ternyata gerakan mereka amblas, "Mereka menjadi bingung, ada yang pasif, netral, malah ada yang membantu kaum kanan (karena hasutan kaum kanan) memukul kita." Agaknya apa yang dicatatkan Soepardjo layak diperhatikan. Sebab, menurut Jenderal (Purn.) A.H. Nasution, dari semua dokumen yang dikumpulkan, catatan Soepardjo itulah yang paling jelas mengungkapkan sebab kegagalan gerakan PKI itu.

Sesungguhnya, kata tokoh senior ABRI itu, "Strategi mereka sudah jitu, potensi yang dipakai mencukupi, hanya operasinya yang tak cukup berhasil." Rencana gerakan disiapkan melalui rapat-rapat sepanjang September 1965, yang dikoordinasikan oleh Sjam dan Pono dari Biro Khusus PKI yang rupanya mendapat perintah dari Aidit.

Rapat itu dihadiri oleh sejumlah perwira ABRI yang beraliran kiri, atau yang sudah dapat digarap oleh Biro Khusus itu. Dalam rapat kelima, 19 September 1965, diputuskan mengangkat Untung sebagai pimpinan gerakan. Komandan Resimen Batalyon I Cakrabirawa itu pula akan jadi Ketua Dewan Revolusi yang akan dibentuk kemudian.

Ketika itu seorang anggota komplotan lain, Kolonel Abdoel Latief, Komandan Brigif. I Kodam V Jakarta Raya, misalnya, mempertanyakan mengapa bukan ditunjuk seorang jenderal yang lebih berpengaruh. Sjam memberi alasan bahwa gerakan mereka bertema untuk menyelamatkan Presiden Soekarno dari kudeta Dewan Jenderal. Karena itu, sebagai pasukan pengawal Presiden, Untung adalah pilihan yang tepat.

Kolonel Latief, Brigjen. Soepardjo, Letkol. (Udara) Heru Atmodjo, Mayor (Udara) Sujono, dan sejumlah perwira lainnya ditunjuk sebagai wakil-wakil Untung. Setelah minggu ketiga September, persiapan nampaknya sudah dimatangkan.

Pasukan yang akan digunakan berasal dari Batalyon 530 Para dari Jawa Timur dan Batalyon 454 dari Jawa Tengah. Pasukan itu memang sengaja akan datang ke Jakarta untuk mengikuti perayaan hari ABRI, 5 Oktober 1965. Tapi rupanya Sjam sudah berhasil membina pimpinan kedua batalyon itu.

Pasukan lainnya berasal dari satu batalyon lebih Cakrabirawa, satu kompi infanteri dari Brigade Infanteri I Jaya (yang dipimpin Brigjen. Latief), satu batalyon lebih PGT (Pasukan Gerak Tjepat) AURI, dua kompi pasukan panser, serta satu kompi pasukan tank. Ini saja jumlahnya sudah sekitar 5.000. Kemudian bergabung pula 2.000-an pasukan PR dan Gerwani bersenjata yang sudah dilatih AURI selama sebulan di Lubang Buaya.

Pasukan ini kemudian dipecah tiga sesuai dengan bidang tugasnya. Grup Pasopati (nama panah Arjuna yang amat sakti dalam cerita wayang) dipimpin Letnan Satu Doel Arif bertugas menculik tujuh jenderal yang sudah ditentukan: Jenderal A.H. Nasution, Ahmad Yani, Soeprapto, S. Parman, Harjono M.T., D.I. Panjaitan, dan Soetojo Siswo mihardjo.

Grup Gatotkaca bertugas jadi semacam pasukan cadangan yang sesewaktu bisa dikirimkan bila dibutuhkan satuan tugas lainnya, selain menjaga basis gerakan di Lubang Buaya atau sekitar Halim. Grup ini bertanggung jawab atas sejumlah orang VIP yang akan dikumpulkan di basis. Omar Dhani dan Aidit, misalnya, sejak 30 September malam sudah berada di kompleks Halim.

Sesuai dengan rencana, sekitar pukul 01.30 (sudah 1 Oktober) Doel Arif sudah selesai membriefing pasukannya. Pasopati, yang sudah dibagi dalam tujuh kelompok sesuai dengan jumlah sasaran, segera diberangkatkannya. Sementara itu, sekitar pukul 05.30 pagi, kawasan di seputar Istana, Monumen Nasional, dan Stasiun Gambir sudah dikepung pasukan Bima Sakti. Begitu pula gedung RRI di Jalan Merdeka Barat dan telekomunikasi (gedung Postel) di Jalan Merdeka Selatan.

Maka, seperti dikatakan Nasution, "Unsur surprise yang mereka andalkan terlaksana." Semua jenderal yang mereka targetkan malam itu berada di rumah masing-masing dan tak menduga apa-apa. Tapi cukup sampai di situ. Selebihnya adalah cerita kekonyolan dan kekalahan.

Seperti diketahui, enam jenderal memang dapat diculik dan dibunuh, tapi Nasution lolos. "Saya lolos karena 'tangan Tuhan'," kata Nasution. Betapa tidak? Pengawal di rumahnya saja sebetulnya adalah anggota Kolonel Latief. Sebelum penyerbuan itu, Latief diketahui sempat mendatangi rumah Nasution dengan dalih untuk mengontrol anak buahnya. Diduga ia sambl melakukan aksl pengintaian.

Nasution meloloskan diri dengan meloncati tembok samping rumahnya dan bersembunyi di balik sebuah drum di halaman gedung Kedutaan Irak. Untungnya, Pasopati nampaknya tak berani memeriksa gedung kedutaan asing itu, walau sebetulnya waktu itu gedung itu kosong. Penghuninya sedang pulang ke Baghdad.

Pasopati hanya mengangkut Letnan Satu Pierre Tendean, pengawal Nasution, yang mereka kira adalah KSAB itu sendiri. Lolosnya Nasution belakangan diketahui menimbulkan kekhawatiran bagi pasukan Gestapu: Nasution akan mengumpulkan pengikut untuk membalas.

Sebab itu, paginya, Untung mengaku memerintahkan pasukannya yang ada di sekitar Monas untuk menguber Nasution. "Tapi gagal, karena rupanya pasukan Batalyon 454 yang saya tugasi tak mengenal Nasution dan tak tahu di mana rumahnya," kata Untung kelak di Mahmilub. Yang lebih gawat, mereka gagal pula menemui Presiden Soekarno pagi hari itu. Padahal, menurut rencana setelah para operasi Pasopati berhasil mereka akan menghadap Soekarno di Istana melaporkan bahwa mereka telah menindak "Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta".

Bila restu Presiden diperoleh, kemenangan segera berada di tangan. Maka, pukul 07.00, pagi itu dua wakil ketua Dewan Revolusi, Brigjen. Soepardjo dan Letkol. Heru Atmodjo, ditemani Mayor Bambang Soepeno (Komandan Batalyon 530) dan Mayor Sukirno (Komandan Batalyon 454) berada di Istana Merdeka. Tapi Bung Karno ternyata urung ke Istana.

Mereka gagal dapat info yang tepat. Banyak lagi kekacauan lain. Pasukan PGT, yang direncanakan tak pernah bergabung, dan, menurut Untung, itu disebabkan mobil untuk mengangkut yang menjadi tanggung jawab Mayor Sujono tak kunjung datang. Waktu itu, kendaraan memang bukan soal gampang di Jakarta. Pasukan tank dan panser yang menurut Sjam dan Pono sebelumnya akan datang dari Bandung dipimpin orang "binaan" mereka, Letnan Susilo, ternyata tak pernah ada.

Dalam rapat 29 September 1965, soal ini sempat membuat berang Latief sebab ia sudah mengecek dan mengetahui soal itu belum beres. "Bung, ini soal besar. Ini bukan hal main-main," kata Latief. Dengan tenang Sjam menjawab, "Biar nanti saya mengeceknya." Terkadang, bila terpojok, Sjam berdalih soal itu akan dilaporkan dan pasti akan diselesaikan Ketua.

Kalau sudah begitu, semua akan diam. "Yang dimaksudnya adalah Aidit, Ketua PKI," kata Untung di Mahmilub. Lebih dari itu pasukan mereka, yang menjaga Istana, seharian tidak diberi makan. Apalagi sentral komando gerakan di Gedung Penas, di Jalan Jakarta By Pass (sekarang Jalan D.I. Panjaitan), dan siangnya pindah ke Halim, rupanya tak mengadakan komunikasi yang jelas dengan pasukannya. Padahal, sejak semula Mayor Sujono menjamin makanan pasukan, karena katanya sudah tersedia beras 15 ton beras.

Selain itu, massa rakyat juga akan memberi pasukan mereka makanan. Rupanya, baru pada pukul 11.00 siang 1 Oktober itu, Soepardjo berhasil melapor kepada Bung Karno yang berada di Halim. Setelah mendengar laporannya, Presiden memerintahkan agar gerakan mereka dihentikan dan untuk selanjutnya kekuasaan berada di tangan Presiden. Di situ pula Gestapu salah hitung.

"Seandainya Dewan Revolusi itu langsung direstui Bung Karno, berarti PKI sukses," kata Sarwo Edhie pekan lalu mengenang peristiwa itu. Mungkin, menurut Bung Karno, G-30-S sebenarnya tak perlu. Menurut keterangan yang diperoleh belakangan, sebetulnya, Bung Karno berencana akan mengganti Ahmad Yani dengan Mayor Jenderal Moersid sebagai Menteri/Pangad, pada 1 Oktober itu. Tentu ia kaget mendengar laporan para jenderal itu sudah dibunuh.

Dan satu hal yang rupanya tidak mereka perhitungkan dan terbukti kemudian menjadi penyebab utama kegagalan ini adalah munculnya Panglima Kostrad, Mayjen. Soeharto. Banyak orang membuat analisa bahwa Soeharto -- tokoh senior di Angkatan Darat setelah Pangad yang juga amat antikomunis -- luput dari perhitungan G30-S karena sikapnya yang tidak mau menonjol, serta lebih banyak diam.

Ternyata, Soeharto begitu cepat menggalang kekuatan ABRI yang ada. Ia berhasil menyingkirkan dua batalyon yang mengawal Istana dari sana tanpa membuang sebutir peluru. Ia, dengan bantuan Letkol. Ali Moertopo dan Brigjen. Sabirin Mochtar berhasil meyakinkan pimpinan pasukan bahwa G-30-S pimpinan Untung telah melakukan kudeta, bukan Dewan Jenderal seperti dituduhkan si Untung.

Lepas magrib hari itu, stasiun RRI dapat pula direbut -- juga tanpa pertempuran. Maka, pukul 7.00 malam itu pidato Pak Harto, yang direkam sore itu, mengudara di RRI. Dijelaskannya, Gerakan 30 September itu adalah "kontrarevolusi" yang telah menculik enam jenderal TNIAD. Tapi Presiden Soekarno dalam keadaan selamat. Dan situasi sudah dikuasai, Angkatan Darat dalam keadaan kompak, dan pimpinan sementara dipegang Panglima Kostrad.

Situasi berbalik. Pada waktu itu di sebuah rumah perwira AURI di Halim, pihak G-30-S sudah kalut. Sjam masih mencoba mengangkat semangat teman-temannya dengan mengusulkan gerakan lanjutan, melakukan serangan balasan. "Saran itu tidak kami jawab. Pada umumnya pikiran kita amat dipengaruhi akan tidak suksesnya gerakan Pasopati menculik Nasuton.

Ada laporan pasukan di Monas seharian tidak makan dan sudah mengundurkan diri dari posnya. Laporan itu membuat komando kami jadi ruwet," begitu pengakuan Untung kemudlan d Mahmilub. Mereka tidak melakukan gerakan apa pun. Beberapa jam kemudian, Soepardjo melaporkan bahwa Presiden Soekarno sudah meninggalkan Halim menuju Bogor dengan mobil. Disusul laporan bahwa Aidit juga sudah terbang ke Yogyakarta, dan Omar Dhani ke Madiun. "Sjam dan Pono sudah kelihatan bingung," kata Untung. Mereka terlampau yakin akan berhasil, hanya dengan menharap restu Bung Karno.

sumber

7 komentar:

  1. RSI SAKINAH MOJOKERTO telp/sms : +6285648280307

    BalasHapus
  2. ternyata lengkap ya di sini. bisa neh jadi bahan ajar di kelas enam. salam kenal dari guru SD di bawah gunung rinjani. ditunggu komen baliknya

    BalasHapus
  3. hmm...sejarah yang benar2 terungkap..mungkin di pelajaran sejarah di sekolah hal ini akan tertutup..

    makasih untuk infonya

    BalasHapus
  4. kayaknya bukan seperti itu sejarah yg sebenarnya, admin tolong d kroscek lg k orang2 halim. tanya langsung k anak buah leo watimena ( eks anggota PGT ) itu smua hanya rekayasa politik kelas tinggi

    BalasHapus
  5. Lebih dari itu, Sang Proklamator, yg kemudian menjadi Presiden seumur hidup, yang mulia baginda presiden Soekarno, dianggap ikut bertanggung-jawab atas terjadinya peristiwa G 30 S/PKI...
    Siapa pelaku, pemeran, dan otak G 30 S/... jelas dan terang, walaupun sdh diputer-puter gak karuan dan dibikin spt benang ruwet...
    Saya kira peristiwa berdarah-darah spt ini tdk mudah terjadi lagi di bumi Indonesia...
    Memang usaha2 mengaburkan fakta dg kebohongan dan melempar isu2 akan terus ada... utk menutupi kesesatan yg dijalani... bukannya bertobat, tp malah menjadi-jadi...

    BalasHapus
  6. ente anak buah suharto, atau pemuja suharto ? atau penerus orba ? sana belajar sejarah dulu. atau ga bisa baca ? atau jangan2 arwah suharto yg bikin blog ini.

    BalasHapus