Kol. BAMBANG WIJANARKO (bekas ajudan Presiden Soekarno)


BAMBANG WIJANARKO, 57, bekas ajudan Presiden Soekarno, kini ketua Perpani (Persatuan Panahan Seluruh Indonesia). PADA 30 September 1965 malam, sedatangnya Presiden Soekarno dari berpidato di Senayan, seperti biasa saya melapor tentang siapa yang akan menghadap besok paginya. Antara lain Menpangad Letjen A. Yani dan Pak Leimena. Acara Presiden kemudian acara pribadi, dan saya minta izin untuk pulang.

Tanggal 1 Oktober, sesuai dengan rencana, pagi-pagi saya pergi ke lapangan Senayan untuk latihan upacara guna peringatan Hari ABRI 5 Oktober. Kalau tak salah, ada 6 batalyon yang mengikuti latihan. Saya jadi inspektur upacara, dengan pakaian lengkap kolonel angkatan laut. Di tengah latihan, setelah ada pasukan yang diambil Kostrad, saya baru berpikir adanya sesuatu yang tidak beres.

Kembali ke istana, Presiden tidak ada, katanya ke Halim Perdanakusuma. Waktu itu saya bertemu dengan Kolonel Supardjo dari MBAD yang akan melapor soai penculikan beberapa jenderal. Baru saya mengerti duduk persoalannya, meski masih juga bingung. Siang itu juga saya ke Kostrad, lalu ke Halim. Sempat juga mampir ke rumah untuk berganti pakaian seragam hijau dan membawa pistol.

Di Halim saya diperintahkan Presiden memanggil Jenderal Pranoto Reksosamodra. Selain Bung Karno sendiri, di Halim waktu itu ada juga Brigjen Sabur dan Pak Leimena. Waktu itu hari sudah hampir gelap. Di Kostrad saya menghadap Pangkostrad Mayjen Soeharto, dan menyampaikan perintah Presiden. Pak Harto menanyakan, "Mbang, Bapak ada di mana?" Saya jawab "Ada di Halim, Pak." Pak Harto kemudian berpesan.

Pertama, segala perintah tentang Angkatan Darat dari Presiden harus disampaikan pada Pak Harto.

Kedua, Jenderal Pranoto tidak bisa menghadap.

Ketiga, agar saya mengusahakan supaya Bung Karno secepatnya meninggalkan Halim.

Setiba kembali di Halim, melalui Pak Leimena, juga dalam rapat, saya mendesak agar Bung Karno segera meninggalkan Halim. Alasan yang saya kemukakan: paling lambat nanti malam atau besok, Halim asti diserang. Saya lalu memerintahkan agar kendaraan disiapkan. Waktu itu sekitar pukul 23.00. Saya, pengawal pribadi, dan Pak Leimena, ikut naik mobil yang sama dengan Presiden Soekarno. Omar Dhani terpaksa naik mobil lain. Dia mengira kami mau ke lapangan terbang. Tapi sesampai di simpang tiga, yang arah kanannya menuju lapanan terbang, sopir saya perintahkan untuk berjalan lurus ke depan.

Waktu Bapak (Bung Karno) bertanya, "Mbang, kita mau ke mana?", saya diam saja. Sampai tiga kali Bapak bertanya. Baru setelah Pak Leimena menepuk pundak saya dari belakang, saya jelaskan bahwa kita sedang menuju ke Istana Bogor. "Kenapa Mbang?" Bapak bertanya. Ada tiga alasan yang saya ajukan.

Pertama,
menurut perhitungan taktis saya sebagai perwira, Halim tidak lama lagi pasti akan diserang. Waktu itu tidak saya katakan bahwa Pak Harto yang memerintahkan saya untuk segera mengusahakan Bapak pergi dari Halim.

Kedua,
saya katakan bahwa kalaupun meninggalkan Halim, untuk saat itu sebaiknya jangan menggunakan pesawat terbang. Sebab, di pesawat terbang nasib kita tergantung pada pilot. Kita bisa saja merencanakan ke mana akan pergi, tapi bisa saja dia membelokkan dan membawa ke mana saja dia mau.

Pertimbangan ketiga,
kalaupun pergi, jangan terlalu jauh meninggalkan Jakarta, agar dapat mengatasi keadaan secepat mungkin. Saya katakan, bahwa tugas saya adalah untuk mengamankan Presiden, dan bila Presiden selamat, adalah tugasnya untuk menyelamatkan negara. Bapak kemudian diam saja.

Sekitar pukul 24.00 lewat sedikit, mobil kami memasuki gerbang utara Istana Bogor. Kami semua kini bisa bernapas lega. Di sana ada Ibu Hartini. Setelah Bapak masuk dan duduk, saya katakan, "Pak, tugas saya untuk mengamankan Bapak selesai, dan sekarang terserah Bapak." Lalu saya ke kantor saya, kantor ajudan di sebelah istana. Saya menelepon langsung ke Kostrad dan berbicara dengan Pak Harto. Saya katakan, "Pak, mission is accomplished. Bapak sudah meninggalkan Halim, dan sekarang ada di Istana Bogor".

sumber

1 komentar:

  1. jadi apakah P. Bambang Widjanarko bersekongkol dengan P. Harto? ada beberapa blog menyatakan P. Bambang malah memberikan laporan/kesaksian bahwa Bung Karno terlibat G30SPKI? yang sejatinya saya pribadi berpendapat Bung Karno tidak terlibat G30SPKI....

    BalasHapus