RATNA SARI DEWI SOEKARNO (Istri Presiden Soekarno)

6 Oktober 1984

RATNA SARI DEWI SOEKARNO, 43 tahun
Istri Presiden Soekarno.

SEPERTI biasa, pada 30 September pagi sekitar pukul 5 Bapak bangun, lalu sembahyang, kadang kala minum kopi, untuk kemudian berangkat ke Istana. Seperti biasa-nya juga, saya lalu tidur kembali.

Soalnya, selama Bapak tidur saya selalu menjaganya. Siang itu saya mempersiapkan diri untuk pengambilan film oleh sebuah perusahaan televisi Jepang. Saya tak ingat persis jamnya, mungkin sekitar pukul 3 dan 4 sore. Pengambilan film itu berlangsung sekitar satu jam.

Setelah itu, Bapak ke Istana, untuk mempersiapkan diri memberi pidato pada kongres Persatuan Insinyur Indonesia di Senayan. Saya sendiri mempersiapkan diri untuk hadir dalam resepsi yang diadakan dubes Italia.

Sekitar pukul 21.00 saya pergi ke Nirwana Supper Club di Hotel Indonesia, memenuhi undangan makan malam dubes Iran dan istri. Waktu itu, hampir semua diplomat asing di Jakarta ada di sana. Sekitar pukul 23.30 seorang ajudan Bapak menemui saya untuk memberi tahu bahwa Bapak menunggu dalam kendaraan di bawah.

Pada 1 Oktober pagi, setelah, sembahyang, Bapak berangkat ke Istana. Tidak benar bahwa pagi itu ada telepon yang memberitahu adanya kudeta. Setahu saya Bapak baru tahu apa yang terjadi sewaktu dalam perjalanan. Sekitar pukul 9 pagi saya mendapat telepon, bertubi-tubi, kebanyakan dari teman dekat. Ada yang bilang, Pak Leimena diserang di rumahnya. Juga Pak Nasution. Tentu saja, saya panik. Pikiran pertama yang terlintas pada saya ialah apakah Bapak selamat, dan di mana dia sekarang.

Kecemasan saya tak berkurang banyak ketika Martono (sekarang menteri transmigrasi) datang menemui saya di Wisma Yaso sekltar pukul 13.00. Saya sudah kenal dekat dengan Pak Martono ketika dia menjadi atase kebudayaan di KBRI Tokyo pada 1959. Dari Pak Martono ini saya mendapat informasi tentang pembunuhan para Jenderal dan bahwa itu pasti perbuatan pihak komunis yang memberontak pada Bung Karno.

Kecemasan saya mulai mereda ketika Kapten Suparto, salah satu ajudan Bapak, sore harinya datang membawa surat, dalam bahasa Inggris, untuk saya. Isinya, antara lain, "Saya berada di suatu tempat, dalam keadaan sehat. Ini disebabkan hal-hal dalam Angkatan Darat yang terjadi tadi malam. Anak-anak yang mengadakan 'revolusi' itu tidak menentang saya, tapi mereka bermaksud menyelamatkan saya. Jadi, janganlah cemas."

Saya kemudian memaksa untuk menemui Bapak. Akhirnya, Suparto setuju untuk menyampaikan surat saya untuk Bapak, yang isinya ingin menemui Bapak. Baru sekitar pukul 19.00 Kapten Suparto yang mengendarai jip militer datang. Saat itulah untuk pertama kali saya mengenakan celana panjang. Soalnya, Bapak tak pernah mengizinkan saya memakainya. Kapten Suparto mengenakan pita putih di bahunya. Katanya, itu merupakan tanda pengenal karena situasi kacau, dan tak tahu siapa kawan, siapa lawan.

Belakangan, baru saya ketahui, tempat yang dituju adalah Halim. Begitu jip berhenti, saya menghambur keluar mencari Bapak. Perkataan pertama yang dikatakan pada saya adalah, "Ini kemunduran 20 tahun. Saya harus menata kembali negara ini lagi." Dalam pertemuan malam itu dibicarakan kemunkinan Bapak untuk pindah ke Jawa Tengah. Saya bersikeras agar Bapak ke Istana Merdeka saja, karena Bapak harus menunjukkan bahwa dia selamat dan memegang kendali pemerintahan. Bapak menolak. Alasannya, para penasihat keamanannya menganggap bahwa Istana Merdeka terlalu berbahaya.

Dari pembicaraan itu saya menarik kesimpulan bahwa Bapak menerima informasi satu pihak saja. Saya ingin menyampaikan informasi yang saya terima dari Pak Martono. Tapi karena terlalu bertentangan, saya tak berani. Saya kemudian mohon agar Bapak pergi ke tempat yang lebih dekat, ke Istana Bogor. Kemudian saya kembali ke Wisma Yaso sementara Bapak berangkat ke Bogor beberapa jam kemudian.

Pada 2 Oktober, Pak Martono kembali berkunjung. Ia bercerita bahwa Jenderal Soeharto sudah mengambil alih keadaan dan mengamankannya. Saya mengirim surat untuk Bapak, dan sore harinya menerima balasan. Petang hari itu Bapak memberi pengumuman di RRI. Tatkala pemakaman jenazah para jenderal dilakukan dan Bapak tidak hadir, saya mengirim surat menyesalkan hal itu. Bapak hari itu juga membalas. Isinya antara lain menjelaskan bahwa ketidakhadiran Bapak karena pihak keamanan, juga Subandrio dan Leimena, tidak menyetujui. Menurut Bapak, mereka tidak yakin apa yang bisa terjadi dalam suatu upacara yang begitu emosional.

sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar