Kegagalan Gestok

SEBUAH pesawat Dakota AURI baru saja lepas landas dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, di pinggiran timur Jakarta. Pesawat ini membawa Ketua PKI, Aidit, dengan sejumlah kecil rombongan. Di malam buta itu mereka terbang menuju Yogya. Tak berapa lama lagi sebuah Hercules C-130 menyusul mengudara. Pesawat angkut militer berbaling-baling empat ini menerbangkan Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dhani, beserta sejumlah staf. Yang dituju ialah Pangkalan Udara Utama (Lanuma) Iswahyudi, di Madiun, Jawa Timur, basis terkuat AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia).

Di sana ada pesawat tempur termodern yang dimiliki AURI pada masa itu, seperti pesawat pemburu MiG 21 dan pengebom TU 16, buatan Uni Soviet. Kesibukan itu, yang terjadi di pangkalan AURI itu pada pukul 01.30 dinihari, 2 Oktober 1965, menandai bangkrutnya Gerakan 30 September. Sebab, kaburnya para tokoh ini merupakan pertanda bahwa Halim Perdanakusuma -- basis mereka sudah sulit dipertahankan.

Memang Omar Dhani tak langsung menuju Madiun. Pesawatnya berputar-putar di udara dan melalui komunikasi radio ia menghubungi petugas pangkalan udara mencari tahu situasi di Halim. Ia juga sempat menghubungi pihak Kostrad, memberi peringatan agar mengurungkan rencana menyerang Halim Perdanakusuma, sebab daerah itu berada di bawah penguasaan AURI.

Panglima AURI ini baru mendarat di Iswahyudi, Madiun, setelah bertahan di udara selama enam jam. Itu setelah ia tahu pasti bahwa Pangkalan Halim Perdanakusuma sudah jatuh ke tangan pasukan Kostrad. Ketika pesawat Omar Dhani meninggalkan landasan, Halim Perdanakusuma memang sudah dikepung oleh pasukan Kostrad (Komando Strategis Angkatan Darat) yang dipimpin Panglima Kostrad, Mayjen. Soeharto (kini presiden). Dari arah barat, Jakarta By Pass (kini Jalan D.I. Panjaitan) dan Cililitan, sudah bergerak pasukan Batalyon 328, Kujang, Siliwangi, dengan diperkuat satu kompi pasukan tank. Sementara itu, lima kompi RPKAD (kini Kopassus), yang terdiri atas sekitar 600 orang, menjepit dari arah Klender, di utara. Sebuah malam yang menegangkan.

Ketika, sebelumnya, Komandan Resimen RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo meminta izin pada Mayjen. Soeharto untuk menyerbu Halim Perdanakusuma, di Markas Kostrad, malam itu, Jenderal A.H.Nasution yang sudah menggabungkan diri ke Kostrad, sempat berkata, "Jij mau bikin tweede Mapanget, ya?" Nasution rupanya teringat kisah sukses Sarwo Edhie dan pasukannya ketika membebaskan lapangan terbang Mapanget di Manado, Sulawesi Utara, dari tangan pemberontak Permesta 1958. Akankah terjadi Mapanget kedua? Tapi nyatanya Halim bukan Mapanget. Tak ada pertempuran seru di sini.

Sekitar pukul enam pagi, 2 Oktober itu, Mayor C.I. Santosa, Komandan Batalyon RPKAD yang memimpin penyerbuan Halim, memberi komando. Lima belas menit kemudian, semua sasaran penting di pangkalan itu sudah diduduki. "Tidak ada perlawanan dan Omar Dhani sudah lari duluan," ujar Sarwo Edhie.

"Kami tak perlu menembak. Cukup dilempari dengan baret merah saja mereka sudah keder duluan," ujar C.I. Santosa, 58 tahun, kini anggota DPA. Ada sedikit tembak-menembak setelah Sarwo Edhie menggerakkan pasukannya menuju Kampung Lubang Buaya, Kecamatan Pasar Rebo, sekitar tiga km dari Halim. Daerah ini merupakan basis pasukan G-30S atau Gestapu.

Rupanya, pasukan batalyon 454, yang telah ditarik mundur dari sekitar Istana Merdeka, kaget melihat RPKAD muncul tiba-tiba, dan mereka melepaskan tembakan. Seorang anggota RPKAD gugur. Dalam tembak-menembak kemudian dua anggota pasukan lawan mati. Cukup sampai di situ.

Selanjutnya, pasukan Gestapu mengundurkan diri tak teratur, lari kocar-kacir, bersama dengan sejumlah anggota Pemuda Rakyat dan Gerwani yang dipersenjatai. Letkol. Untung, Ketua Dewan Revolusi, bersama sejumlah tokoh G30-S lainnya, Brigjen. Soepardjo, Mayor Sujono, serta pimpinan Biro Khusus PKI, Sjam dan Pono, sebetulnya berada di tempat itu.

Kemudian mereka meloloskan diri ke arah Cipete. Dari sana mereka berpencar. Soepardjo, misalnya, sempat menginap di Istana Bogor sampai 5 Oktober 1965. Ketika itu Presiden Soekarno juga berada di sana.

Sedang Untung tertangkap oleh ABRI dan massa rakyat di Tegal, Jawa Tengah, 11 Oktober 1965, ketika ia sedang menumpang bis Mujur untuk melanjutkan pelariannya menuju Semarang. Keesokan harinya ia dibawa ke Markas Kostrad di Jakarta dengan pengawalan beberapa panser dan truk penuh berisi pasukan ABRI.

Setelah Halim Perdanakusuma diduduki sebetulnya, praktis sayap militer G-30-S sudah dipatahkan. Memang ketika itu Kostrad masih mengkhawatirkan datangnya serangan udara, sebab Omar Dhani sudah jelas mendukung Gestapu. Sebab itulah Mayjen. Soeharto memindahkan pos komando (Posko) untuk sementara dari Kostrad ke perkampungan atlet Senayan, sejak pukul 11.30, 1 Oktober itu.

Artileri pertahanan udara TNI-AD sudah sempat disiapkan. Tapi nyatanya tak satu pesawat tempur pun yang datang menyerang Jakarta. Mengapa begitu mudah gerakan makar ini patah? Brigjen Soepardjo, salah seorang tokoh penting G-30-S, memang sempat membuat analisa tentang kegagalan itu. Ia menggambarkan bahwa Gerakan ini tak disiapkan dengan baik.

Tulisnya di sebuah dokumen yang kemudian ditemukan: "Sungguh-sungguh di luar dugaan bahwa mereka Sjam dan kawan-kawan, jangankan membuat persiapan, malahan diskusi pun tak ada untuk menghadapi jika G-30-S gagal, apa bentuk retreat-nya dan sebagainya."

Selanjutnya Soepardjo mengatakan, "Garis agitasi SJam dan kawan-kawan hanya: semua beres, kita kuat, massa siap revolusi, dan lain-lain kata yang bombastis. Malah pikiran mereka lebih jauh lagi, pada tanggal 30 September malam dan 1 Oktober pagi Senko (sentral komando) pindah ke MBAD (Markas Besar Angkatan Darat). Jenderal-jenderal/menteri dipanggili, bagi-bagi tenaga untuk perwira Kodam/Kostrad dan lain sebagainya."

Maka, setelah ternyata gerakan mereka amblas, "Mereka menjadi bingung, ada yang pasif, netral, malah ada yang membantu kaum kanan (karena hasutan kaum kanan) memukul kita." Agaknya apa yang dicatatkan Soepardjo layak diperhatikan. Sebab, menurut Jenderal (Purn.) A.H. Nasution, dari semua dokumen yang dikumpulkan, catatan Soepardjo itulah yang paling jelas mengungkapkan sebab kegagalan gerakan PKI itu.

Sesungguhnya, kata tokoh senior ABRI itu, "Strategi mereka sudah jitu, potensi yang dipakai mencukupi, hanya operasinya yang tak cukup berhasil." Rencana gerakan disiapkan melalui rapat-rapat sepanjang September 1965, yang dikoordinasikan oleh Sjam dan Pono dari Biro Khusus PKI yang rupanya mendapat perintah dari Aidit.

Rapat itu dihadiri oleh sejumlah perwira ABRI yang beraliran kiri, atau yang sudah dapat digarap oleh Biro Khusus itu. Dalam rapat kelima, 19 September 1965, diputuskan mengangkat Untung sebagai pimpinan gerakan. Komandan Resimen Batalyon I Cakrabirawa itu pula akan jadi Ketua Dewan Revolusi yang akan dibentuk kemudian.

Ketika itu seorang anggota komplotan lain, Kolonel Abdoel Latief, Komandan Brigif. I Kodam V Jakarta Raya, misalnya, mempertanyakan mengapa bukan ditunjuk seorang jenderal yang lebih berpengaruh. Sjam memberi alasan bahwa gerakan mereka bertema untuk menyelamatkan Presiden Soekarno dari kudeta Dewan Jenderal. Karena itu, sebagai pasukan pengawal Presiden, Untung adalah pilihan yang tepat.

Kolonel Latief, Brigjen. Soepardjo, Letkol. (Udara) Heru Atmodjo, Mayor (Udara) Sujono, dan sejumlah perwira lainnya ditunjuk sebagai wakil-wakil Untung. Setelah minggu ketiga September, persiapan nampaknya sudah dimatangkan.

Pasukan yang akan digunakan berasal dari Batalyon 530 Para dari Jawa Timur dan Batalyon 454 dari Jawa Tengah. Pasukan itu memang sengaja akan datang ke Jakarta untuk mengikuti perayaan hari ABRI, 5 Oktober 1965. Tapi rupanya Sjam sudah berhasil membina pimpinan kedua batalyon itu.

Pasukan lainnya berasal dari satu batalyon lebih Cakrabirawa, satu kompi infanteri dari Brigade Infanteri I Jaya (yang dipimpin Brigjen. Latief), satu batalyon lebih PGT (Pasukan Gerak Tjepat) AURI, dua kompi pasukan panser, serta satu kompi pasukan tank. Ini saja jumlahnya sudah sekitar 5.000. Kemudian bergabung pula 2.000-an pasukan PR dan Gerwani bersenjata yang sudah dilatih AURI selama sebulan di Lubang Buaya.

Pasukan ini kemudian dipecah tiga sesuai dengan bidang tugasnya. Grup Pasopati (nama panah Arjuna yang amat sakti dalam cerita wayang) dipimpin Letnan Satu Doel Arif bertugas menculik tujuh jenderal yang sudah ditentukan: Jenderal A.H. Nasution, Ahmad Yani, Soeprapto, S. Parman, Harjono M.T., D.I. Panjaitan, dan Soetojo Siswo mihardjo.

Grup Gatotkaca bertugas jadi semacam pasukan cadangan yang sesewaktu bisa dikirimkan bila dibutuhkan satuan tugas lainnya, selain menjaga basis gerakan di Lubang Buaya atau sekitar Halim. Grup ini bertanggung jawab atas sejumlah orang VIP yang akan dikumpulkan di basis. Omar Dhani dan Aidit, misalnya, sejak 30 September malam sudah berada di kompleks Halim.

Sesuai dengan rencana, sekitar pukul 01.30 (sudah 1 Oktober) Doel Arif sudah selesai membriefing pasukannya. Pasopati, yang sudah dibagi dalam tujuh kelompok sesuai dengan jumlah sasaran, segera diberangkatkannya. Sementara itu, sekitar pukul 05.30 pagi, kawasan di seputar Istana, Monumen Nasional, dan Stasiun Gambir sudah dikepung pasukan Bima Sakti. Begitu pula gedung RRI di Jalan Merdeka Barat dan telekomunikasi (gedung Postel) di Jalan Merdeka Selatan.

Maka, seperti dikatakan Nasution, "Unsur surprise yang mereka andalkan terlaksana." Semua jenderal yang mereka targetkan malam itu berada di rumah masing-masing dan tak menduga apa-apa. Tapi cukup sampai di situ. Selebihnya adalah cerita kekonyolan dan kekalahan.

Seperti diketahui, enam jenderal memang dapat diculik dan dibunuh, tapi Nasution lolos. "Saya lolos karena 'tangan Tuhan'," kata Nasution. Betapa tidak? Pengawal di rumahnya saja sebetulnya adalah anggota Kolonel Latief. Sebelum penyerbuan itu, Latief diketahui sempat mendatangi rumah Nasution dengan dalih untuk mengontrol anak buahnya. Diduga ia sambl melakukan aksl pengintaian.

Nasution meloloskan diri dengan meloncati tembok samping rumahnya dan bersembunyi di balik sebuah drum di halaman gedung Kedutaan Irak. Untungnya, Pasopati nampaknya tak berani memeriksa gedung kedutaan asing itu, walau sebetulnya waktu itu gedung itu kosong. Penghuninya sedang pulang ke Baghdad.

Pasopati hanya mengangkut Letnan Satu Pierre Tendean, pengawal Nasution, yang mereka kira adalah KSAB itu sendiri. Lolosnya Nasution belakangan diketahui menimbulkan kekhawatiran bagi pasukan Gestapu: Nasution akan mengumpulkan pengikut untuk membalas.

Sebab itu, paginya, Untung mengaku memerintahkan pasukannya yang ada di sekitar Monas untuk menguber Nasution. "Tapi gagal, karena rupanya pasukan Batalyon 454 yang saya tugasi tak mengenal Nasution dan tak tahu di mana rumahnya," kata Untung kelak di Mahmilub. Yang lebih gawat, mereka gagal pula menemui Presiden Soekarno pagi hari itu. Padahal, menurut rencana setelah para operasi Pasopati berhasil mereka akan menghadap Soekarno di Istana melaporkan bahwa mereka telah menindak "Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta".

Bila restu Presiden diperoleh, kemenangan segera berada di tangan. Maka, pukul 07.00, pagi itu dua wakil ketua Dewan Revolusi, Brigjen. Soepardjo dan Letkol. Heru Atmodjo, ditemani Mayor Bambang Soepeno (Komandan Batalyon 530) dan Mayor Sukirno (Komandan Batalyon 454) berada di Istana Merdeka. Tapi Bung Karno ternyata urung ke Istana.

Mereka gagal dapat info yang tepat. Banyak lagi kekacauan lain. Pasukan PGT, yang direncanakan tak pernah bergabung, dan, menurut Untung, itu disebabkan mobil untuk mengangkut yang menjadi tanggung jawab Mayor Sujono tak kunjung datang. Waktu itu, kendaraan memang bukan soal gampang di Jakarta. Pasukan tank dan panser yang menurut Sjam dan Pono sebelumnya akan datang dari Bandung dipimpin orang "binaan" mereka, Letnan Susilo, ternyata tak pernah ada.

Dalam rapat 29 September 1965, soal ini sempat membuat berang Latief sebab ia sudah mengecek dan mengetahui soal itu belum beres. "Bung, ini soal besar. Ini bukan hal main-main," kata Latief. Dengan tenang Sjam menjawab, "Biar nanti saya mengeceknya." Terkadang, bila terpojok, Sjam berdalih soal itu akan dilaporkan dan pasti akan diselesaikan Ketua.

Kalau sudah begitu, semua akan diam. "Yang dimaksudnya adalah Aidit, Ketua PKI," kata Untung di Mahmilub. Lebih dari itu pasukan mereka, yang menjaga Istana, seharian tidak diberi makan. Apalagi sentral komando gerakan di Gedung Penas, di Jalan Jakarta By Pass (sekarang Jalan D.I. Panjaitan), dan siangnya pindah ke Halim, rupanya tak mengadakan komunikasi yang jelas dengan pasukannya. Padahal, sejak semula Mayor Sujono menjamin makanan pasukan, karena katanya sudah tersedia beras 15 ton beras.

Selain itu, massa rakyat juga akan memberi pasukan mereka makanan. Rupanya, baru pada pukul 11.00 siang 1 Oktober itu, Soepardjo berhasil melapor kepada Bung Karno yang berada di Halim. Setelah mendengar laporannya, Presiden memerintahkan agar gerakan mereka dihentikan dan untuk selanjutnya kekuasaan berada di tangan Presiden. Di situ pula Gestapu salah hitung.

"Seandainya Dewan Revolusi itu langsung direstui Bung Karno, berarti PKI sukses," kata Sarwo Edhie pekan lalu mengenang peristiwa itu. Mungkin, menurut Bung Karno, G-30-S sebenarnya tak perlu. Menurut keterangan yang diperoleh belakangan, sebetulnya, Bung Karno berencana akan mengganti Ahmad Yani dengan Mayor Jenderal Moersid sebagai Menteri/Pangad, pada 1 Oktober itu. Tentu ia kaget mendengar laporan para jenderal itu sudah dibunuh.

Dan satu hal yang rupanya tidak mereka perhitungkan dan terbukti kemudian menjadi penyebab utama kegagalan ini adalah munculnya Panglima Kostrad, Mayjen. Soeharto. Banyak orang membuat analisa bahwa Soeharto -- tokoh senior di Angkatan Darat setelah Pangad yang juga amat antikomunis -- luput dari perhitungan G30-S karena sikapnya yang tidak mau menonjol, serta lebih banyak diam.

Ternyata, Soeharto begitu cepat menggalang kekuatan ABRI yang ada. Ia berhasil menyingkirkan dua batalyon yang mengawal Istana dari sana tanpa membuang sebutir peluru. Ia, dengan bantuan Letkol. Ali Moertopo dan Brigjen. Sabirin Mochtar berhasil meyakinkan pimpinan pasukan bahwa G-30-S pimpinan Untung telah melakukan kudeta, bukan Dewan Jenderal seperti dituduhkan si Untung.

Lepas magrib hari itu, stasiun RRI dapat pula direbut -- juga tanpa pertempuran. Maka, pukul 7.00 malam itu pidato Pak Harto, yang direkam sore itu, mengudara di RRI. Dijelaskannya, Gerakan 30 September itu adalah "kontrarevolusi" yang telah menculik enam jenderal TNIAD. Tapi Presiden Soekarno dalam keadaan selamat. Dan situasi sudah dikuasai, Angkatan Darat dalam keadaan kompak, dan pimpinan sementara dipegang Panglima Kostrad.

Situasi berbalik. Pada waktu itu di sebuah rumah perwira AURI di Halim, pihak G-30-S sudah kalut. Sjam masih mencoba mengangkat semangat teman-temannya dengan mengusulkan gerakan lanjutan, melakukan serangan balasan. "Saran itu tidak kami jawab. Pada umumnya pikiran kita amat dipengaruhi akan tidak suksesnya gerakan Pasopati menculik Nasuton.

Ada laporan pasukan di Monas seharian tidak makan dan sudah mengundurkan diri dari posnya. Laporan itu membuat komando kami jadi ruwet," begitu pengakuan Untung kemudlan d Mahmilub. Mereka tidak melakukan gerakan apa pun. Beberapa jam kemudian, Soepardjo melaporkan bahwa Presiden Soekarno sudah meninggalkan Halim menuju Bogor dengan mobil. Disusul laporan bahwa Aidit juga sudah terbang ke Yogyakarta, dan Omar Dhani ke Madiun. "Sjam dan Pono sudah kelihatan bingung," kata Untung. Mereka terlampau yakin akan berhasil, hanya dengan menharap restu Bung Karno.

sumber

SALIM SAID (Wartawan)




PAGI 1 Oktober 1965 itu saya bangun agak kesiangan. Sebagai reporter kantor berita PAB (Pemberitaan Angkatan Bersenjata), malam sebelumnya saya harus bekerja hingga larut malam. Selain sebagai wartawan, waktu itu saya juga berstatus mahasiswa. Kebetulan sekali hari-hari itu sedang berlangsung masa perploncoan.

Saya tiba di sekolah sekitar pukul sembilan pagi. Begitu tiba, saya langsung dikerubuti teman-teman. "Eh, babe-nya Rully diculik. Katanya, dia CIA," kata seorang di antaranya. Rully adalah putri Almarhum Jenderal Yani yang menjadi saah seorang teman sekolah saya.

"Ada Dewan Jenderal yang mau kup," kata seorang lainnya. Dewan Jenderal? Tiba-tiba saya teringat briefing Brigjen R.H. Sugandhi - kepala Penerangan Staf Angkatan Bersenjata dan pimpinan PAB - beberapa hari sebelumnya. "PKI sekarang sedang meniupkan isu bahwa ada Dewan Jenderal," begitu antara lain briefing tersebut.

Tidak syak lagi PKI mesti berada di belakang penculikan ini. Itu keyakinan saya pagi itu. Inilah hari yang telah lama dinantikan: show down antara PKI dan Angkatan Darat yang sudah lama diramaikan. Saya tiba-tiba ketakutan, dan segera menuju ke rumah Brigjen Sugandhi yang memang tak jauh dari sekolah saya.

Sugandhi kebetulan baru saja masuk setelah berkeliling menyaksikan ceceran darah di berbagai rumah jenderal yang diculik oleh pasukan bersenjata Gerakan Tiga Puluh September. "Ini jelas PKI, Pak," kata saya kepada atasan saya itu. "Ya, tidak salah lagi," kata Sugandhi. Tugas saya selanjutnya ialah menghubungi semua staf Brigjen Sugandhi.

Semua bingung. Kantor secara darurat berpindah ke rumah Jenderal Sugandhi, dan beliau segera melakukan kontak. Sementara itu, saya teringat teman-teman yang biasa berkumpul di rumah Wiratmo Soekito, yang terletak tak jauh dari rumah Sugandhi. Di situ biasa berkumpul Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, serta teman-teman seniman dan budayawan yang waktu itu tidak bisa berbuat banyak karena teror PKI serta antek-anteknya.

Pagi itu saya cuma ketemu Wiratmo. "Kita harus segera menyebarkan bahwa ini PKI," kata Wiratmo, yang segera pergi bersama dengan Gayus Siagian (almarhum). Dengan becak saya kembali ke sekolah. Teman-teman masih bingung. Dan saya mulai "berkampanye". "Saya sudah mengecek, ini memang PKI," kata saya dengan meyakinkan. "Kita harus siap-siap, sebab pasti akan ada pertumpahan darah," kata saya lagi.

Setelah itu, kembali lagi ke rumah Sugandhi. Hari sudah tengah hari, dan di halaman sekolah saya berpapasan dengan Imam Walujo yang waktu itu adalah sekretaris Mr.Suyono Hadinoto. "Presiden Soekarno ada di Halim sekarang," kata Imam. Info itu ternyata berguna untuk saya sampaikan kepada atasan saya, yang sampai saat itu masih bingung mengenai di mana Presiden Soekarno berada.

Tidak lama kemudian, kami semua pindah ke Kostrad. Kesibukan luar biasa sedang terjadi di sana. Suasana takut masih meliputi kami semua. Kolonel Komar, salah seorang asisten Brigjen Sugandhi, mengajak saya menengok rumahnya yang terletak di Menteng. Kami keluar dari Kostrad dengan jip militer. Di rumahnya, Kolonel Komar memberikan penjelasan kepada anak istrinya, serta membongkar gudang senjatanya. Orang rumah dipersenjatai, peluru dibagikan, cara menembak secara kilat diajarkan. Kolonel Komar tidak lupa pada saya. Untuk saya sebuah senapan panjang jenis jungle.

Di halaman Kostrad, siang dan sore itu, saya mondar-mandir dengan senapan di pundak saya. Dan tentara-tentara itu ternyata tidak ambil pusing. Kesibukan berlangsun terus, dan anak buah Brigjen Sugandhi bekerja cepat menyiapkan pamflet untuk menjelaskan apa yang terjadi. "RRI harus segera kita rebut," kata Brigjen Sugandhi. Saya kebetulan pernah magang di RRI, dan tak diangkat jadi pegawai karena dituduh terlibat Manikebu.

Karena merasa tahu RRI, saya lalu usul, "Darmosugondo harus kita cari, supaya kalau RRI sudah direbut, kita langsung suruh dia bicara." "Kau tahu rumahnya?" tanya Sugandhi. "Tahu, Pak," jawab saya. Kebetulan sekali beberapa hari sebelumnya saya diajak Wiratmo Soekito ke rumah Darmosugondo, reporter RRI terkemuka waktu itu.

Ketika saya akan memasuki mobil Kolonel Djoko Basuki yang saya pakai dalam operasi "penculikan" Darmosugondo itu, seorang perwira memperhatikan bedil yang saya sandang. "Itu ditinggal saja dulu," katanya. Langsung saja saya serahkan senapan itu kepada Kolonel Komar kembali. Ketika saya kemudian kembali ke Kostrad, senjata saya diganti dengan pistol.

Seumur hidup, baru saat itu saya sempat berkenalan dengan senjata. Darmosugondo ketakutan ketika melihat saya dengan pengawal. "Saya mau diapakan di Kostrad?" Dengan senyum saya menguraikan teori yang baru saja saya pelajari di akultas Psikologi, sekolah saya waktu itu. "Pak Darmo 'kan selalu didengar rakyat di radio bersama Bung Karno. Nah, kalau mendengar suara Pak Darmo rakyat sudah seperti merasa mendengar suara Bung Karno. Dalam keadaan Bung Karno entah aman entah tidak, Pak Darmo bisa menolong banyak"

Dia kelihatan tenang berpakaian, dan lalu ikut saya. Hari sudah berangsur gelap ketika kami tiba di Kostrad. Beberapa saat kemudian untuk pertama kalinya saya lihat Kolonel Sarwo Eddie dengan pasukannya. Sebentar kemudian Jenderal Nasution tiba dari persembunyiannya. Suasana sibuk dan tegang, dan saya lihat Kolonel Tjokropranolo, dalam pakaian sipil, mondar-mandir.

Lewat radio, laporan kemudian tiba bahwa RRI sudah diamankan oleh RPKAD. Kini tugas bagian penerangan untuk mengambil alat vital tersebut. Kolonel Sarwo Eddie melaporkan hal tersebut kepada Brigjen Sugandhi. Dan tiba-tiba yang terakhir ini berteriak, "Ayo, kita ke RRI, bitel-bitelan di sana." Masa itu lagu-lagu Beatles memang diharamkan oleh Presiden Soekarno.

Truk berjalan lambat memotong Monas yang waktu itu masih penuh timbunan tanah yang menggunung. Duduk di samping sopir, dua brigjen, Sugandhi dan Ibnu Subroto (almarhum), kepala Penerangan Angkatan Darat waktu itu. Di kiri kanan truk, berjalan RPKAD yang tentu saja waspada dalam malam yang sudah gelap itu. Tidak ada kesukaran memasuki RRI.

Dan karena sudah berhasil meyakinkan dua jenderal dalam rombongan, bahwa saya tahu RRI, lantas saja saya jadi penunjuk jalan. Kami langsung ke Studio V, dan pejabat-pejabat RRI rupa-rupanya sudah menunggu "penyerbuan" kami di sana. Brigjen Sugandhi memberikan penjelasan mengenai apa yang terjadi, dan mata saya mencari-cari orang-orang RRI yang dulu mendadak revolusioner dan getol mengganyang apa yang mereka sebut Manikebu.

Ketika Brigjen Sugandhi masih memberikan penjelasan, saya yang berdiri berdampingan dengan Brigjen Ibnu Subroto membisikkan sesuatu ke telinga kepala Puspenad itu. "Pak, lagu Nasakom saya kira sebaiknya dilarang saja." Ibnu Subroto diam saja. Tapi begitu Sugandhi selesai bicara, Ibnu Subroto langsung menyambunnya, "Mulai sekarang lagu Nasakom tidak boleh lagi disiarkan."

Mongkok hati saya mendengar perintah itu. Malam itu tidak ada kerja saya di RRI kecuali menelusuri lorong-lorong kantor yang dulu mengusir saya dan menghancurkan cita-cita saya untuk menggantikan Darmosugondo. Ia tidak juga dipersilakan muncul di depan corong malam itu. Entah mengapa.

sumber

Brigjen. SUGANDHI KARTOSUBROTO (Kepala Penerangan Staf Angkatan Bersenjata)

(Mantan ajudan Presiden Soekarno 1950-1960)
PADA tahun 1965 itu, PKI sudah merasa yakin akan menang, hingga di mana-mana mereka menyombongkan diri sebagai partai terbesar. Kebetulan, waktu itu di samping sebagai ketua MKGR (Musyawarah Kerja Gotong Royong), saya juga ketua umum Padi (Pengajian Dakwah Islam). Tiap awal bulan ada pengajian malam Jumat di rumah para panglima ABRI.

Sebelum dakwah, saya selalu membuka dengan memperingatkan adanya "orang yang menyombongkan diri", dan mengingatkan hadirin agar tidak sampai "kemasukan setan". Bahkan, pada 30 September malam, malam Jumat, pada pengajian di rumah Menteri Panglima Angkatan Laut Laksamana Madya R.E. Martadinata, saya berkata, "Mungkin besok akan terjadi sesuatu."

Sebelumnya, pada 30 September pagi, saya ke Istana menemui Bung Karno di kamar tidurnya. Saya menanyakan apakah benar jenderal-jenderal akan ditangkap dan diadili dengan tuduhan terlibat Dewan Jenderal. Menurut Bung Karno, mereka tidak mengerti soal revolusi. Jawab saya: Lho tidak mengerti bagaimana? Jenderal Yani 'kan tangan kanan Bung Karno, anak emas Bung Karno. Seharusnya Bung Karno menyelamatkan Yani. Kata Bung Karno, "Karena itu, saya mau panggil dia besok pagi. Mau saya tanya macam-macam."

Waktu saya bilang bahwa PKI jahat, Bung Karno mengatakan, "Kamu jangan fobi lagi. Komunis ada di dunia ini tidak bisa dihilangkan begitu saja." Tatkala saya mengingatkannya tentang teror PKI, Bung Karno marah - sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya - dan menyuruh saya keluar.

Pada 1 Oktober pagi, Ny. Suprapto dan Ny. S. Parman datang menemui saya, melaporkan bahwa suami mereka diculik dan ditembak Cakrabirawa. Saya memikirkan tindakan apa yang harus saya ambil. Saya memutuskan untuk menemui Pak Martadinata. Kepadanya saya ceritakan penculikan para jenderal itu. Dia kaget. Tapi dia bilang, kita semua taat pada Presiden.

Presiden Soekarno pagi itu ternyata ada di Halim. Pak Martadinata, yang ingin tahu duduk persoalannya dari Presiden sendiri lalu berangkat ke Halim. Karena Jenderal Yani tidak ada, secara hirarkis yang memimpin Angkatan Darat adalah Pak Harto sebagai pangkostrad. Saya lalu pergi ke Kostrad. Antara pukul 9 dan 10 itu Kostrad masih sepi, tapi Pak Harto sudah ada. Beliau berjanji membantu.

Pak Harto ternyata sudah tahu bahwa RRI sudah dikuasai Letkol Untung. Saya, yang waktu itu memimpin penerangan Hankam, lalu mengajak teman saya Brigjen Ibnu Subroto, kepala Dinas Penerngan Angkatan Darat, untuk menyerbu RRI, guna membungkam suara musuh. Tapi Pak Harto bilang, RRI bukan tempatnya. RRI hanya studionya. Pangkalan dan motornya di Cimanggis.

Bersama dengan satu regu RPKAD kemudian (sore harinya) kami menyerbu RRI di Jalan Merdeka Barat. Lalu saya tempatkan Kolonel M.Y. Sofyan di sana untuk menjaga dan mengawasi. Setelah itu kami siarkan pidato Pak Harto yang pada pokoknya menjelaskan bahwa situasi keamanan telah pulih kembali.

Lalu pada 6 Oktober 1965, saya berpidato untuk menjelaskan latar belakang kudeta PKI. Bahwa PKI sebelumnya bisa menang karena berkedok Pancasila. Sebetulnya, semua ucapan PKI bohong saja.

sumber

ROESLAN ABDULGANI (Menko Hubungan Rakyat merangkap Menteri Penerangan)


1 Oktober 1965 pagi, kebetulan saya ada wawancara dengan RRI, yang sudah direncanakan sebelumnya, untuk menyambut Hari Angkatan Perang. Waktu itu saya masih menjabat menteri koordinator hubungan rakyat merangkap menteri penerangan.

Orang-orang yang mewawancarai saya datang terlalu pagi, sekitar pukul 06.30, padahal seharusnya mereka datang pukul 08.00. Mereka menceritakan bahwa malam sebelumnya ada kejadian (penculikan beberapa jenderal).

Wawancara diteruskan. Kemudian ada siaran radio dari Untung yang mengumumkan terbentuknya Dewan Revolusi. Nama Bung Karno tidak disebut-sebut dalam susunan dewan itu. Karenanya, saya menarik konklusi: ada kup terhadap kekuasaan Presiden Soekarno.

Gejala ke arah itu sudah lama tampak. Sejak 1963 PKI mengikuti kubu Peking. Sejak itu mereka mengintroduksikan pertentangan kelas, di kota, di desa, bahkan juga di kalangan angkatan bersenjata. PKI juga membuat rencana rahasia empat tahun: pada 1967 mereka mengharapkan menjadi mayoritas sehingga menjadi pemenang dalam pemilu yang akan datang.

Tapi mereka tidak menunggu sampai 1967, karena para dokter RRC yang memeriksa kesehatan Presiden Soekarno membocorkan kepada orang-orang PKI bahwa Bung Karno sebentar lagi sudah tidak bisa bertahan. PKI takut, kalau kelak Bung Karno meninggal, mereka akan dipukul dulu oleh musuh-musuhnya.

Sekitar pukul 13.00, datang Magenda anak buah Brigjen Sukendro. Dia melaporkan bahwa suasana sudah agak jelas. "Ada kup," katanya. Saya dianjurkannya pergi ke stasiun RRI di Cimanggis karena nama saya masuk "daftar kedua", daftar calon yang akan diculik PKI. Sore itu saya pergi ke Cimanggis, lalu dari sana menuju Bandung.

Di Bandung saya bertemu dengan panglima Kodam Siliwangi Ibrahim Adjie. Adjie bilang, Bung Karno masih ada di Halim dan karena itu harus segera dikeluarkan dari sana. Begitu ada kabar Bung Karno sudah ada di Bogor, Adjie bilang lagi kepada saya, "Pak Ruslan, Bung Karno harus diyakinkan. Hanya Bapak yang bisa neyakinkan Bung Karno. Bikinlah surat." Saya semula menolak, karena sadar hubungan saya dengan Bung Karno sudah jelek. Tapi akhirnya saya buat juga surat tulisan tangan. Bunyinya: "Bung, saya datang pada kesimpulan bahwa Dewan Revolusi yang diumumkan Untung adalah kup. Sebabnya ialah karena tidak ada tempat untuk Presiden Soekarno. Karena itu, saya melepaskan ikatan saya dengan pemerintah yang sekarang dibentuk ini. Dengan perkataan lain, saya tidak lkut dalam pemerimtahan itu."

Pada 2 Oktober itu juga Ibrahim Adjie meminta saya meninggalkan Bandung, karena RRI Cimanggis sangat tergantung pada instruksi-instruksi saya. RRI Jakarta sendiri, yang menyiarkan pengumuman Untung, telah dapat dikuasai Pak Harto. Seusai memberi instruksi kepada para pegawai RRI Cimanggis, saya pulang ke rumah, di Jalan Diponegoro.

Pukul 13.00 datang Surachman, yang menyatakan bahwa atas nama PNI dia telah mengumumkan bahwa PNI mendukung terbentuknya Dewan Revolusi. Pimpinan PNI yang lain, misalnya Ketua Umum Ali Sastroamidjojo, waktu itu sedang berada di Beijing bersama sejumlah tokoh lain, termasuk Chaerul Saleh. Saya sempat adu mulut dengan keputusan nekat Surachman.

Malamnya saya berjalan-jalan keluar, dan mampir di RRI. Saya langsung diminta di depan corong. Saya berbicara saja dl depan radio. Saya katakan, keadaan sudah aman, sudah dikuasai. Saya omong sedikit, bohong sedikit. Pada 4 Oktober, jenazah para jenderal yang diculik ditemukan.

sumber

Letkol (Pol). MANGIL MARTOWIDJOJO (bekas Dan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Resimen Cakrabirawa)

Letnan Kolonel Polisi (pur.) MANGIL MARTOWIDJOJO, 60, bekas komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Resimen Cakrabirawa.



PADA 30 September 1965 malam, Bung Karno memberikan sambutan pada pertemuan Persatuan Insinyur Indonesia di Senayan. Bapak kelihatannya agak kecewa karena banyak kursi VIP yang kosong.

Pada pukul 23.00 Bapak kembali ke Istana Merdeka, mengganti baju kepresidenan dengan baju lengan pendek warna putih dan celana abu-abu. Sekitar 20 menit kemudian, Bapak keluar Istana. Memakai mobil Chrysler nomor B 4747 warna hitam, tanpa memakai kopiah, Bapak menjemput Ibu Dewi yang sedang ada di Hotel Indonesia.

Bapak tetap ada di mobil sementara Suparto menjemput Ibu Dewi. Dari Hotel Indonesia, Bapak langsung ke Wisma Yaso. Pada 1 Oktober pukul 05.15, saya menerima telepon dari salah seorang anggota DKP yang bertugas di Wisma Yaso. Isinya: hubungan telepon keluar Istana diputus Telkom atas perintah militer.

Setengah jam kemudian saya sudah ada di Wisma Yaso. Di situ, pada pukul 06.00 saya mendengar bahwa rumah Jenderal Nasution dan Leimena ditembaki. Pada pukul 06.30 Bapak keluar, masih memakai baju lengan pendek dan tanpa kopiah. Bapak rupanya sudah dilapori terjadinya penembakan tersebut, hingga lalu memanggil saya dan meminta laporan yang jelas mengenai kejadian itu.

Waktu saya jawab bahwa saya belum tahu, Bapak marah. Kemudian ia bertanya, "Menurut kamu sebaiknya bagaimana?" Saya jawab, "Sebaiknya Bapak di sini dulu, atau bisa juga Bapak ke Istana." Dengan konvoi, Bapak akhirnya berangkat ke Istana. Waktu sampai di Jembatan Dukuh Atas, ada kabar lewat pemancar radio bahwa Istana dikepung tentara.

Saya mencoba menghubungi mobil yang ditumpangi Bapak dengan handie talkie, tapi gagal karena alat itu tak berfungsi dengan baik. Sementara iring-iringan mobil dengan kecepatan sekitar 40 km per jam itu mendekati Istana, saya menyerukan untuk belok ke kiri, ke Jalan Kebon Sirih, tapi tak bisa didengar oleh ajudan di mobil Presiden. Saya semakin khawatir ketika iringan tak berbelok, sementara di kejauhan tampak tentara yang mengepung Istana.

Dengan berteriak keras akhirnya saya berhasil juga membelokkan iringan ke Jalan Budi Kemuliaan. Di sini iringan sempat terhenti karena jalan macet. Kemudian ada hubungan radio dengan ajudan Kolonel Saelan yang menginstruksikan supaya iring-iringan menuju ke Grogol, ke tempat Ibu Harjati, istri Bapak yang lain.

Rombongan tiba pada pukul 08.00. Sekitar pukul 09.00 datang Ajudan Komisaris Besar (Polisi) Sumirat dan Jaksa Agung Muda Brigjen Sunaryo. Kemudian dirundingkan untuk mencari tempat yang aman buat Bapak. Ada usul, misalnya, untuk membawa Bapak ke rumah kosong milik Sie Bien Ho di Kebayoran Baru, seorang kenalan yang pernah menawarkan rumah itu kepada Cakrabirawa. Alternatif ini tak jadi digunakan, karena Kolonel Saelan menginstruksikan untuk membawa Bapak ke Halim.

Instruksi ini diterima karena sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan, bahwa bila presiden dalam bahaya, ia bisa dilarikan ke asrama ABRI terdekat, ke pangkalan udara Halim Perdanakusuma (di sana ada pesawat Jetstar yang siap terbang), ke Tanjung Priok (di sana tersedia dua kapal ALRI Varuna I dan Varuna II), atau ke Istana Bogor (di sana tersedia helikopter).

Pada pukul 09.30 Bapak meninggalkan rumah Ibu Harjati. Mobil Chrysler diganti dengan mobil VW kodok biru. Isinya: Bapak, Brigjen Sunaryo, Ajudan Sudarso, dan Pengemudi Suparto. Tapi begitu melihat Pangau Omar Dhani dan deputinya, Leo Wattimena, berdiri di depan markas Angkatan Udara di Halim, mobil berbalik arah, dan tak jadi menuju landasan.

Ada pikiran untuk mencari rumah guna Bapak beristirahat. Lalu didapatkan rumah Komodor Susanto, pilot pesawat yang biasa dipakai Bapak bila keliling Indonesia. Selang beberapa waktu kemudian datang Brigjen Supardjo, yang dikawal Mayor Subambang dan Mayor Sutrisno.

Tak lama kemudian dengan pesawat helikopter datang Brigjen Sabur. Bapak menginstruksikan untuk memanggil Pangal, Pangak, dan Pangdam V/Jaya. Selang beberapa lama datang ajudan Kolonel Bambang Wijanarko.

Menjelang tengah hari, datang Pangal Laksamana Martadinata. Sebelumnya telah hadir Jaksa Agung Jenderal sutardhio dengan Jaksa Agung Muda Brigjen Sunaryo. Pada pukul 15.00 Pangak Jenderal Sutjipta Judodihardjo datang, disusul oleh Pak Leimena.

Lalu pada pukul 17.00 putra-putri Bapak - Megawati, Rahmawati, Sukmawati, dan Guruh - datang. Dengan helikopter mereka kemudian diterbangkan ke Bandung.

Pada pukul 18.00 ada laporan dari Komodor Susanto bahwa ada konvoi militer menuju Halim, tapi dihentikan di depan pos PGT (Pasukan Gerak Tjepat) TNI-AU.

Ibu Dewi kemudian datang pada pukul 20.00 lebih. Kolonel Saelan kemudian memerintahkan untuk mempersiapkan diri buat meninggalkan Halim. Agar tak mencolok, konvoi berjalan bertahap. Bapak menumpang mobil Prins, warna biru, B 3739 R. Di dalamnya ikut serta Pak Leimena, Bambang Wijanarko, Sudarso, dan Suparto.

Semua pengawal, kecuali seorang yang berseragam Cakrabirawa, memakai pakaian preman, tapl tiap orang membawa revolver. Dalam jip-jip mereka (ada delapan mobil dalam rombongan) total ada 18 senjata Thomson. Hampir mendekati tengah malam, kami sampai ke Istana Bogor.

Kol. BAMBANG WIJANARKO (bekas ajudan Presiden Soekarno)


BAMBANG WIJANARKO, 57, bekas ajudan Presiden Soekarno, kini ketua Perpani (Persatuan Panahan Seluruh Indonesia). PADA 30 September 1965 malam, sedatangnya Presiden Soekarno dari berpidato di Senayan, seperti biasa saya melapor tentang siapa yang akan menghadap besok paginya. Antara lain Menpangad Letjen A. Yani dan Pak Leimena. Acara Presiden kemudian acara pribadi, dan saya minta izin untuk pulang.

Tanggal 1 Oktober, sesuai dengan rencana, pagi-pagi saya pergi ke lapangan Senayan untuk latihan upacara guna peringatan Hari ABRI 5 Oktober. Kalau tak salah, ada 6 batalyon yang mengikuti latihan. Saya jadi inspektur upacara, dengan pakaian lengkap kolonel angkatan laut. Di tengah latihan, setelah ada pasukan yang diambil Kostrad, saya baru berpikir adanya sesuatu yang tidak beres.

Kembali ke istana, Presiden tidak ada, katanya ke Halim Perdanakusuma. Waktu itu saya bertemu dengan Kolonel Supardjo dari MBAD yang akan melapor soai penculikan beberapa jenderal. Baru saya mengerti duduk persoalannya, meski masih juga bingung. Siang itu juga saya ke Kostrad, lalu ke Halim. Sempat juga mampir ke rumah untuk berganti pakaian seragam hijau dan membawa pistol.

Di Halim saya diperintahkan Presiden memanggil Jenderal Pranoto Reksosamodra. Selain Bung Karno sendiri, di Halim waktu itu ada juga Brigjen Sabur dan Pak Leimena. Waktu itu hari sudah hampir gelap. Di Kostrad saya menghadap Pangkostrad Mayjen Soeharto, dan menyampaikan perintah Presiden. Pak Harto menanyakan, "Mbang, Bapak ada di mana?" Saya jawab "Ada di Halim, Pak." Pak Harto kemudian berpesan.

Pertama, segala perintah tentang Angkatan Darat dari Presiden harus disampaikan pada Pak Harto.

Kedua, Jenderal Pranoto tidak bisa menghadap.

Ketiga, agar saya mengusahakan supaya Bung Karno secepatnya meninggalkan Halim.

Setiba kembali di Halim, melalui Pak Leimena, juga dalam rapat, saya mendesak agar Bung Karno segera meninggalkan Halim. Alasan yang saya kemukakan: paling lambat nanti malam atau besok, Halim asti diserang. Saya lalu memerintahkan agar kendaraan disiapkan. Waktu itu sekitar pukul 23.00. Saya, pengawal pribadi, dan Pak Leimena, ikut naik mobil yang sama dengan Presiden Soekarno. Omar Dhani terpaksa naik mobil lain. Dia mengira kami mau ke lapangan terbang. Tapi sesampai di simpang tiga, yang arah kanannya menuju lapanan terbang, sopir saya perintahkan untuk berjalan lurus ke depan.

Waktu Bapak (Bung Karno) bertanya, "Mbang, kita mau ke mana?", saya diam saja. Sampai tiga kali Bapak bertanya. Baru setelah Pak Leimena menepuk pundak saya dari belakang, saya jelaskan bahwa kita sedang menuju ke Istana Bogor. "Kenapa Mbang?" Bapak bertanya. Ada tiga alasan yang saya ajukan.

Pertama,
menurut perhitungan taktis saya sebagai perwira, Halim tidak lama lagi pasti akan diserang. Waktu itu tidak saya katakan bahwa Pak Harto yang memerintahkan saya untuk segera mengusahakan Bapak pergi dari Halim.

Kedua,
saya katakan bahwa kalaupun meninggalkan Halim, untuk saat itu sebaiknya jangan menggunakan pesawat terbang. Sebab, di pesawat terbang nasib kita tergantung pada pilot. Kita bisa saja merencanakan ke mana akan pergi, tapi bisa saja dia membelokkan dan membawa ke mana saja dia mau.

Pertimbangan ketiga,
kalaupun pergi, jangan terlalu jauh meninggalkan Jakarta, agar dapat mengatasi keadaan secepat mungkin. Saya katakan, bahwa tugas saya adalah untuk mengamankan Presiden, dan bila Presiden selamat, adalah tugasnya untuk menyelamatkan negara. Bapak kemudian diam saja.

Sekitar pukul 24.00 lewat sedikit, mobil kami memasuki gerbang utara Istana Bogor. Kami semua kini bisa bernapas lega. Di sana ada Ibu Hartini. Setelah Bapak masuk dan duduk, saya katakan, "Pak, tugas saya untuk mengamankan Bapak selesai, dan sekarang terserah Bapak." Lalu saya ke kantor saya, kantor ajudan di sebelah istana. Saya menelepon langsung ke Kostrad dan berbicara dengan Pak Harto. Saya katakan, "Pak, mission is accomplished. Bapak sudah meninggalkan Halim, dan sekarang ada di Istana Bogor".

sumber

RATNA SARI DEWI SOEKARNO (Istri Presiden Soekarno)

6 Oktober 1984

RATNA SARI DEWI SOEKARNO, 43 tahun
Istri Presiden Soekarno.

SEPERTI biasa, pada 30 September pagi sekitar pukul 5 Bapak bangun, lalu sembahyang, kadang kala minum kopi, untuk kemudian berangkat ke Istana. Seperti biasa-nya juga, saya lalu tidur kembali.

Soalnya, selama Bapak tidur saya selalu menjaganya. Siang itu saya mempersiapkan diri untuk pengambilan film oleh sebuah perusahaan televisi Jepang. Saya tak ingat persis jamnya, mungkin sekitar pukul 3 dan 4 sore. Pengambilan film itu berlangsung sekitar satu jam.

Setelah itu, Bapak ke Istana, untuk mempersiapkan diri memberi pidato pada kongres Persatuan Insinyur Indonesia di Senayan. Saya sendiri mempersiapkan diri untuk hadir dalam resepsi yang diadakan dubes Italia.

Sekitar pukul 21.00 saya pergi ke Nirwana Supper Club di Hotel Indonesia, memenuhi undangan makan malam dubes Iran dan istri. Waktu itu, hampir semua diplomat asing di Jakarta ada di sana. Sekitar pukul 23.30 seorang ajudan Bapak menemui saya untuk memberi tahu bahwa Bapak menunggu dalam kendaraan di bawah.

Pada 1 Oktober pagi, setelah, sembahyang, Bapak berangkat ke Istana. Tidak benar bahwa pagi itu ada telepon yang memberitahu adanya kudeta. Setahu saya Bapak baru tahu apa yang terjadi sewaktu dalam perjalanan. Sekitar pukul 9 pagi saya mendapat telepon, bertubi-tubi, kebanyakan dari teman dekat. Ada yang bilang, Pak Leimena diserang di rumahnya. Juga Pak Nasution. Tentu saja, saya panik. Pikiran pertama yang terlintas pada saya ialah apakah Bapak selamat, dan di mana dia sekarang.

Kecemasan saya tak berkurang banyak ketika Martono (sekarang menteri transmigrasi) datang menemui saya di Wisma Yaso sekltar pukul 13.00. Saya sudah kenal dekat dengan Pak Martono ketika dia menjadi atase kebudayaan di KBRI Tokyo pada 1959. Dari Pak Martono ini saya mendapat informasi tentang pembunuhan para Jenderal dan bahwa itu pasti perbuatan pihak komunis yang memberontak pada Bung Karno.

Kecemasan saya mulai mereda ketika Kapten Suparto, salah satu ajudan Bapak, sore harinya datang membawa surat, dalam bahasa Inggris, untuk saya. Isinya, antara lain, "Saya berada di suatu tempat, dalam keadaan sehat. Ini disebabkan hal-hal dalam Angkatan Darat yang terjadi tadi malam. Anak-anak yang mengadakan 'revolusi' itu tidak menentang saya, tapi mereka bermaksud menyelamatkan saya. Jadi, janganlah cemas."

Saya kemudian memaksa untuk menemui Bapak. Akhirnya, Suparto setuju untuk menyampaikan surat saya untuk Bapak, yang isinya ingin menemui Bapak. Baru sekitar pukul 19.00 Kapten Suparto yang mengendarai jip militer datang. Saat itulah untuk pertama kali saya mengenakan celana panjang. Soalnya, Bapak tak pernah mengizinkan saya memakainya. Kapten Suparto mengenakan pita putih di bahunya. Katanya, itu merupakan tanda pengenal karena situasi kacau, dan tak tahu siapa kawan, siapa lawan.

Belakangan, baru saya ketahui, tempat yang dituju adalah Halim. Begitu jip berhenti, saya menghambur keluar mencari Bapak. Perkataan pertama yang dikatakan pada saya adalah, "Ini kemunduran 20 tahun. Saya harus menata kembali negara ini lagi." Dalam pertemuan malam itu dibicarakan kemunkinan Bapak untuk pindah ke Jawa Tengah. Saya bersikeras agar Bapak ke Istana Merdeka saja, karena Bapak harus menunjukkan bahwa dia selamat dan memegang kendali pemerintahan. Bapak menolak. Alasannya, para penasihat keamanannya menganggap bahwa Istana Merdeka terlalu berbahaya.

Dari pembicaraan itu saya menarik kesimpulan bahwa Bapak menerima informasi satu pihak saja. Saya ingin menyampaikan informasi yang saya terima dari Pak Martono. Tapi karena terlalu bertentangan, saya tak berani. Saya kemudian mohon agar Bapak pergi ke tempat yang lebih dekat, ke Istana Bogor. Kemudian saya kembali ke Wisma Yaso sementara Bapak berangkat ke Bogor beberapa jam kemudian.

Pada 2 Oktober, Pak Martono kembali berkunjung. Ia bercerita bahwa Jenderal Soeharto sudah mengambil alih keadaan dan mengamankannya. Saya mengirim surat untuk Bapak, dan sore harinya menerima balasan. Petang hari itu Bapak memberi pengumuman di RRI. Tatkala pemakaman jenazah para jenderal dilakukan dan Bapak tidak hadir, saya mengirim surat menyesalkan hal itu. Bapak hari itu juga membalas. Isinya antara lain menjelaskan bahwa ketidakhadiran Bapak karena pihak keamanan, juga Subandrio dan Leimena, tidak menyetujui. Menurut Bapak, mereka tidak yakin apa yang bisa terjadi dalam suatu upacara yang begitu emosional.

sumber

CATHERINE PANJAITAN (putri sulung Alm Brigjen D.I. Panjaitan)

06 Oktober 1984

CATHERINE PANJAITAN, 37,
putri sulung Pahlawan Revolusi Almarhum Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan, kini ibu rumah tangga.

PADA 30 September 1965 itu, sepulang saya dari sekolah di SMA Tarakanita (kelas I), saya meminta izin Papi agar diperbolehkan mengikuti apel di Senayan, yang diwajibkan sekolah waktu itu. Tapi Papi melarang. "Pokoknya, kamu jangan pergi," ujarnya singkat. Sebagai remaja, saya sangat ingin keluar rumah. Karena itu, saya ngotot pergi. Mengenakan seragam putih, sepatu putih, rambut dikepang dua (ekor kuda), saya berangkat.

Di Stadion Senayan, pidato dimulai pukul 17.00, tapi saya tidak mendengarkan, karena asyik bergurau dengan teman. Acara selesai sekitar pukul 20.00 tapi baru sekitar pukul 22.00 saya sampai ke rumah karena harus mengantar teman. Saya agak takut masuk rumah, karena diberitahu: sejak tadi saya ditunggu Papi. Tanpa makan malam, saya jinjing sepatu ke atas (rumah kami bertingkat), ke kamar saya, supaya Papi tidak tahu saya datang. Saya lihat lampu kamarnya masih menyala.

Setelah berganti pakaian, saya tidur. Kira-kira pukul 04.30, 1 Oktober 1965, saya terbangun karena mendengar teriakan-teriakan disertai tembakan. Saya mengintip dari jendela. Saya lihat banyak orang yang berseragam tentara, beberapa di antaranya melompati pagar, sambil membawa senapan. Saya berlari keluar kamar. Ternyata, Papi sudah bangun. Ia menggendong adik, anak seorang saudara yang baru datang dari Sumatera. Kami semua berkumpul di ruang tengah lantai atas. Papi mondar-mandir, dari balkon ke kamarnya. Ia mencoba mengotak-atik senjatanya, semacam senapan pendek.

Saya bertanya pada Papi. "Pa, ada apa?". Tapi ia tak menjawab. Tembakan terus terdengar, sekarang di lantai bawah. Barang-barang hancur, televisi, koleksi kristal Ibu, bahkan meja pun terbalik. "Tiarap," Papi memberi komando. Lalu saya disuruh menelepon Samosir, salah seorang asisten Jenderal S. Parman. Cepat saya hubungi dia, minta bantuan, kami dikepung, banyak tentara. Setelah itu saya telepon pacar sahabat saya, namanya Bambang. Saya minta bantuan. Tapi belum selesai pembicaraan, kabel telepon diputus.

Di lantai bawah, tembakan masih terdengar, tapi tak ada yang nyasar ke atas. Lalu terdengar teriakan Albert, sepupu saya, "Tulang (Paman), jangan menyerah. Jangan menyerah, Tulaang !". Albert dan Victor (ipar Papi) memang tidur di lantai bawah. Dua pembantu kami terdengar ditanyai "Mana ndoro-mu ?". Saya mendengar pertanyaan itu jelas sekali, diulang-ulang. Baru setelah diancam akan dibunuh, mereka memberitahu.

Lalu teriakan beralih ke atas. "Menyerah saja, menyerah". Secara spontan, saya bertanya "Siapa yang suruh?". Dari bawah dijawab "Paduka yang mulia". Namun, para tentara yang di bawah tidak berani naik ke atas. Kemudian Papi masuk kamar, berganti pakaian. Ibu menangis. Tanpa banyak kata Papi turun, dengan pakaian dinas lengkap.

Kaus kaki hitam telah dlpakai, tapi sepatunya dijinjing. Ibu, saya, Salomo - adik saya - terpaku melihat kepergiannya. Ketika Papi menuruni tangga, sampai di belokan, saya mengejarnya, ingin mengikutinya. Namun, Papi cepat berkata, "Jangan turun. Semua tinggal di atas." Saya terdiam. Saya dan Salomo kemudian berlari ke balkon, ingin mengikuti perkembangan.

Saya melihat, dan mendengar, salah seorang dari lima orang yang berseragam hijau dan bertopi baja berseru "Siap. Beri hormat". Tapi Papi cuma mengambil topinya, lalu mengapitnya di ketiak kiri. Tentara itu kemudian memukul Papi dengan gagang senapan. Papi tersungkur.

Dan cepat sekali dor, dor, dua kali tembakan meletus. Darah menyembur dari kepala Papi. Saya dan Salomo tertegun. Hampir bersamaan, saya dan Salomo memburu ke luar, ke bawah. Di pintu kami berebutan keluar. Sampai di luar, jenazah Papi sudah tidak ada. Tinggal genangan darah yang bercampur cairan putih, mungkin otak Papi.

Berbagai perasaan tak menentu berkecamuk, waswas, takut, bingung, tegang, bercampur-aduk. Dengan air mata meleleh, saya berteriak, "Papa ..., Papa ...." Saya ambil darah Papi, saya usapkan ke wajah turun sampai ke dada. Lalu saya tepuk dada saya, saya gedor. Ada semacam perasaan bersalah, mengapa saya tak bisa membela Papi. Tapi saya sadar bahwa Papi telah terbunuh.

Dan itulah cara penghormatan saya yang terakhir. Salomo, yang memburu sampai ke pintu gerbang, hanya bisa menyaksikan kepergian truk yang membawa jenazah Papi. Ia menemukan sejumput rambut Papi, yang tertinggal, mungkin akibat diseret (rambut ini di kemudian hari disusulkan dan dikebumikan di kubur Papi).

Waktu kembali ke rumah, saya baru melihat bahwa Albert dan Victor juga terkapar bersimbah darah. Dengan masih mengenakan daster, dengan darah Papi berlepotan di muka dan di daster, saya sendiri mengemudikan mobil menuju rumah Pak Nasution di Jalan Teuku Umar. Ternyata, di sana juga ramai. "Pak Nasution diserbu dan diculik," kata seseorang.

Saya lalu menuju ke rumah seorang saudara, di Jalan Cut Mutiah. Saya hanya bilang "Papa diculik". Lalu saya dipeluk. Dengan didampingi tiga orang saudara, saya kembali di rumah, di Jalan Hasanuddin, Kebayoran Baru. Di rumah sudah agak banyak orang. Tiba di tangga ke atas, saya duduk, dan baru saya menangis sesenggukan. Ibu sering jatuh pingsan. Siuman sebentar, menangis, lalu pingsan lagi.

Beberapa oran mencoba menghibur saya, "Tabah. Tabahkan hatimu. Papi baru dicari." Tentu saja saya tidak bisa menerima hiburan itu, sebab saya tahu, Papi ditembak di jidatnya, dan terkapar di tanah, dengan darah melimbah bercampur cairan putih dari kepalanya. "Papa mati ditembak kepalanya," ujar saya di sela tangis.

sumber